Tentang Jogja
Ditulis oleh bunkamenk di/pada Mei 24, 2008
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah daerah otonom setingkat provinsi satu dari 30 lebih Daerah Tingkat satu yang ada di Indonesia. DIY beribukota di Yogyakarta. Yogyakarta mempunyai beberapa predikat, baik yang berasal dari sejarahnya maupun dari potensi yang berasal dari daerah ini, sepeti sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar dan kota pariwisata. Sebutan sebagai kota perjuangan berkaitan erat dengan peranan Yogyakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia, baik semasa kolonial Belanda, masa penjajahan Jepang, maupun pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Sebutan Yogyakarta sebagai kota Pariwisata menggambarkan potensi propinsi ini dalam kacamata kepariwisataan. Yogyakarta adalah daerah tujuan pariwisata terbesar kedua setelah Bali. Bebagai obyek wisata dikembangkan di wilayah ini, seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata pendidikan, bahkan yang terbaru adalah wisata malam.
Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan adanya berbagai pendidikan di setiap jenjang pendidikan tersedia di propinsi ini, sehingga di Yogyakarta terdapat banyak mahasiswa dan pelajar dari seluruh Indonesia. Tidak belebihan jika Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia.
Di samping predikat di atas, sejarah dan status Yogyakarta merupakan hal menarik untuk disimak. Nama daerahnya mamakai sebutan DIY sekaligus statusnya sebagai daerah Istimewa. Status daerah Istimewa berkenaan dengan runutan sejarah Yogyakarta, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta telah berkembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mataram, yakni di tanah alas Mentaok yang sekartang ini di kenal sebagai Kotagede. Mataram adalah sebuah kerajaan yanga amat terkenal dan penting dalam sejarah bumi nusantara. Sebagai kerajaan yang berdaulat, mencapai puncaknya pada masa pemertintahan Sultan Agung, kerajaan Mataram mampu memberikan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Akibat Politik devide et impera yang dilancarakan kompeni Belanda untuk memecah belah kekuasaan kerajaan akhirnya membuat kerajaan besar itu terpecah. Lemahnya ketahan politik dalam mengahadapi hubungan pusat daerah memyebabkan raja menjadi bergantung pada kompeni Belanda. Intervensi rezim kolonial Belanda ke dalam tatanan istana Mataram meahirkan sejumlah perang saudara dan revolusi istana. Akhirnya, kerajaan Mataram terbagi menjadi dua bagian : KasuananSurakarta dan Kasunan Yogyakarta.
Bibit perpecahan wilayah kerajaan ini bermula pada masa pemerintahan Sunan Prabu, yang bergelar Paku Buwono II. Paku Buwono II menjadi raja pada tahun 1927 menggantikan ayahnya Amangkurat IV. Pada tahun 1740, sebagai akibat pembantaian orang-orang Cina di Batavia, meletus Geger Pecinan, sebuah pemberontakan orang-orang Cina melawan kompeni di Batavia yang kemudian meluas sampai ke wilayah Kerajaan Mataram. Pemberontakan ini mendapat dukungan luas dari para bangsawan, termasuk Paku Buwono II.
Istana kerajaan akhirnya berhasil dikuasai pemberontak, Paku Buwono II mengasingkan diri ke Ponorogo. Kaum pemberontak mengangkat RM Said sebagai raja dengan gelar Amangkurat V. Kekuatan pemberontak semakin kuat ketika memperoleh dukungan dari berbagai kalangan seperti dari Martopuro, Adiati Sujanapura dan Pangeran Singosari. Pemberontakan akhirnya berhasil dipadamkan oleh Pangeran Mangkubumi bersama pasukannya, akan tetapi RM Said dan Martopuro meloloskan diri.
Paku Buwono II ingkar janji memberikan daerah Sukowati sebagai hadiah keberhasilan menumpas pemberontakan tersebut kepda Pangeran Mangkubumi. Maka pada Tahun 1746 Pangeran Mangkubumi dari kraton dan berkoalisi dengan RM Said untuk mengadakan kraman melawan Paku Buwono II dan kompeni. Sementara pada tahun 1749, Paku Buwono II mengundurkan diri dan diganti puteranya yang bergelar Paku Buwono III.
Peperangan terjadi antara koalisi Pangeran Mangkubumi dan RM Said melawan Paku Buwono III dan Kompeni. Dengan taktik gerilya, pihak koalisi berkali-kali memetik kemenangan. Kompeni Belanda banyak kehilangan daerah kekuasaannya. Kenyataan ini menjadikan Van Hohendorff, Gubernur Jawa Utara ketika itu, putus asa dan mengundurkan diri, digantikan oleh Nicolas Hartingh yang menguasai bahasa Jawa dan pintar bergaul dengan orang-orang Jawa. Sementara itu, terjadi pula pergantian Gubernur jendral Belanda dari Van Imhoff Mossell. Dibandingkan dengan Van Imhoff, Mosell yang pintar berbahasa Jawa, bersikap lebih moderat dalam menghadapi raja-raja di Jawa.
Untuk menyelesaikan pemberontakan Pangeran Mangkubumi dan RM Said, duet Mossel dan Hartingh lebih menekankan pada cara damai. Perundingan damai akhirnya berhasil dilaksanakan, yang masing-masing antara kompeni dan RM Said dan antara Kompeni dengan Pangeran Mangkubumi. RM Said menyetujui isi perjanjiannyadengan kompeni dengan syarat kompeni harus meninggalkan daerah Sukowati. Dalam perjanjiannya dengan Pangeran Mangkubumi, Belanda menawarkan untuk membagi kerajaan Mataram menjadi dua, sebagian tetap di bawah kekuasaan Paku Buwono III dan sebagian diberikan kepada Pangeran Mangkubumi. Perjanjian ini dilaksanakan pada tahun 1755, yang terkenal sebagai perjanjian Gianti.
Dengan perjanjian tersebut, Kasultanan Yogyakarta secara resmi berdiri. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan dengan gelar Hamengku Buwono I. Pada awal pemerintahan Kasultanan, pusat pemerintahan (pesanggrahan) sementara dibangun di Ambar Ketawang Gamping, yang kemudian di pindah ke tempat yang lebih permanen dan strategis, yakni di desa Pacetokan yang terletak di kawasan hutan Berangin (Yogyakarta sekarang ini). Desa ini bertanah rata dan landai, terletak diantara dua sungai, sungai Code di sebelah timur dan sungai Winongo di sebelah barat. Di tempat inilah istana kraton dibangun dan secara resmi ditempati pada tanggal 7 Oktober 1756, dengan nama Ngayogyakarta. Sementara itu, Sri Sultan Hamengku Buwono I bertempat tinggal pesanggrahan Garjitawati yang sekaligus sebagai pusat pemerintahan. Di Pesanggrahan inilah, RM Said pernah melancarkan pemberontakan melawan Pakubuwono Iipada tahun 1942, dan Pangeran Mangkubumi memaklumkan dirinya sebagai susuhunan ing Mataram (Sunan Paku Buwono senopati Mataram) ketika terjadi vacuum of power pada suksesi dari Paku Buwono II kepada Paku Buwono III. Di lihat dari makna kata garjita (bersukaria) dan ati (hati). Garjitawati memiliki arti tempat untuk menyenangkan hati.